Sistem Seat Belt Pretensioner Mendukung Keselamatan

Sistem Seat Belt Pretensioner Mendukung Keselamatan

Thu, 23 - July - 2020read

Seat belt atau sabuk pengaman pasti ada di dalam sebuah mobil. Meski terlihat sama, namun cara kerja sabuk pengaman berbeda-beda. Salah satu yang banyak dipakai ialah sistem seat belt pretensioner yang mampu menunjang keselamatan dengan baik.

Sabuk pengaman merupakan perangkat penunjang keselamatan yang vital karena melekat langsung ke tubuh. Arti krusialnya bahkan lebih tinggi dibanding perangkat lain seperti airbag.

Saking penting, inovasi seat belt selalu dihadirkan. Kini kita bisa menikmati sistem sabuk pengaman pretensioner yang marak digunakan di berbagai jenis mobil.

Cara kerja seat belt pretensioner mengandalkan sensor yang terhubung dengan gas atau senyawa campuran kimia tertentu. Sistemnya mirip dengan sensor yang dipakai airbag. Bahkan, sensor sabuk pengaman berkaitan erat dengan airbag.

Dalam sistem pretensioner, sabuk pengaman akan mulai bekerja ketika airbag mengembang. Memanfaatkan gas atau senyawa campuran kimia yang bisa bereaksi saat ada benturan keras, seat belt mampu berjalan otomatis. 

Ketika benturan keras terjadi, pemantik akan membuat zat kimia bereaksi. 

Saat itu, secara otomatis, sabuk pengaman akan mengencang untuk menjaga penumpang tidak terhempas dari jok. Lalu, selang beberapa detik kemudian, sabuk pengaman akan mengendur dengan sendirinya.

Sistem ini dinilai sangat efektif menjaga tubuh tetap tertahan di jok mobil. Penumpang tidak akan terpental ke depan. Dengan demikian, risiko kecelakaan fatal akibat benturan bisa diminimalkan.

Meski berkaitan erat dengan airbag, seat belt pretensioner bisa bekerja tanpa airbag yang mengembang. Namun, itu hanya memungkinkan saat ada benturan dalam mobil yang melaju dengan kecepatan rendah. Kalau itu terjadi, airbag tidak mengembang namun sabuk pengaman tetap mengencang dengan sendirinya.

DIGABUNG DENGAN MEKANISME LAIN

Karena efektivitasnya, banyak mobil yang memakai sistem sabuk pengaman pretensioner. Tidak sedikit yang akhirnya menggabungkannya dengan mekanisme lain seperti force-limiter, supaya perlindungan lebih maksimal. 

Dalam mekanisme force-limiter terdapat sistem yang membatasi kekuatan sabuk dalam mengendalikan beban tubuh penumpang. Teknologi ini diperlukan untuk meminimalkan benturan ke dada yang vital.

Sistem force-limiter mulai aktif sesudah mekanisme pretensioner bekerja. Melalui mekanisme tersebut, sabuk pengaman bisa mengendur. Hasilnya sabuk pengaman mampu menjaga agar badan tidak terbentur keras ke airbag yang sudah mengembang. Selain itu, sistem ini juga mampu meminimalkan risiko patah tulang bahu akibat tekanan seat belt yang terlalu kuat.

Ketika digabungkan dengan mekanisme pretensioner, force limiter akan bekerja selaras dengan airbag. Kedua sistem bakal aktif saat airbag mengembang sehingga benturan tidak terlalu keras.

Akan tetapi, meski terbilang efektif untuk melindungi penumpang, sistem sabuk pengaman pretensioner termasuk mekanisme sekali pakai. Ketika terjadi benturan dan airbag mengembang, sistem yang sudah bekerja tidak bisa digunakan lagi. 

Jadi, sangat disarankan untuk melakukan pengecekan sesudah terjadi benturan. Itu penting untuk memastikan apakah sistem perlu diperbarui atau belum.

Seat belt pretensioner berbeda dengan sabuk pengaman biasa yang bisa digunakan berkali-kali. Namun, seat belt biasa tidak akan bisa mengatur kekencangan sabuk saat terjadi benturan. Ini yang membuat risiko kecelakaan fatal menjadi lebih besar dibanding menggunakan seat belt pretensioner.

Tertarik untuk memakai sabuk pengaman pretensioner? Gunakan saja karena keselamatan penumpang lebih terjamin.